Home > Uncategorized > Harga Minyak Bakal Terus Naik

Harga Minyak Bakal Terus Naik

JAKARTA – Tren harga minyak dunia masih terus meningkat setelah menembus level tertingginya dalam dua tahun terakhir. Perkembangan itu dikhawatirkan mendongkrak inflasi tahun depan terkait pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

”Harga terus merayap naik hingga awal tahun depan karena tren kenaikan ini berasal dari ekonomi Amerika yang sedang bagus tahun ini,” ujar pengamat perminyakan Kurtubi di Jakarta.

Kenaikan harga minyak dunia ini,lanjut Kurtubi,bisa berdampak serius pada tingkat inflasi di Indonesia. Hal itu terkait dengan diterapkannya kebijakan pembatasan BBM bersubsidi tahun depan.

Sementara itu,hingga November lalu inflasi tercatat telah melebihi target yang dipatok pemerintah sebesar 5,3 persen hingga akhir tahun, mencapai 6,3 persen, dipicu kenaikan harga bahan kebutuhan pokok (volatile food). Inflasi dikhawatirkan semakin tinggi pada tahun depan ketika BBM bersubsidi mulai dibatasi.

”Sebaiknya rencana pembatasan untuk mobil berpelat hitam dibatalkan saja karena bisa menimbulkan pasar gelap.Lebih baik pemerintah sekalian menaikkan saja harga BBM,”tuturnya.

Harga minyak dunia di pasar Asia kemarin terus mencatatkan kenaikan, menyentuh level tertinggi baru dalam dua tahun terakhir,dipicu naiknya permintaan akibat cuaca dingin ekstrem di Eropa dan Inggris, serta menipisnya suplai. Harga minyak mentah jenis brent yang menjadi benchmark pasar Eropa untuk pengiriman Februari sempat menyentuh angka USD94,74 per barel–level tertinggi sejak Oktober 2008–sebelum akhirnya turun tipis ke levelUSD94,57 per barel.

Sementara, harga minyak yang menjadi benchmark di pasar berjangka AS telah lebih dulu menyentuh level tertinggi dalam 26 bulan terakhir, di level USD91,63 per barel. Salju dan cuaca dingin ekstrem yang diperkirakan masih akan melingkupi sebagian Eropa pekan ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak lebih tinggi.

”Dengan berlanjutnya tren kenaikan permintaan dan cuaca dingin di Eropa, harga minyak ke depan akan mencari keseimbangan baru. Ada indikasi dinamika harga minyak akan memasuki fase baru,” ungkap analis Barclays Capital dalam laporan mingguannya.

Pergerakan harga terakhir dinilai telah membuka peluang harga minyak untuk menyentuh level USD100/barel, khususnya untuk minyak mentah jenis brent.Harga minyak yang telah naik lebih dari 30 persen dari level terendahnya tahun ini juga mulai dicermati sejumlah negara karena bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi,khususnya bagi negara-negara pengimpor minyak.

Menteri Keuangan Korea Selatan misalnya,memperingatkan kemungkinan naiknya tekanan inflasi tahun depan akibat kenaikan harga minyak dan beberapa komoditas di pasar global. Sementara,Pemerintah India kini tengah mempertimbangkan untuk menaikkan harga BBM untuk melindungi para pelaku pasar retail BBM di negara itu dari kenaikan harga minyak, sekaligus mengurangi beban subsidi yang harus ditanggung negara.

Bahkan, China yang merupakan negara pengonsumsi energi terbesar kedua dunia, telah lebih dulu menaikkan harga bensin dan solar untuk mendorong industri pengilangan minyak guna mendongkrak produksinya untuk memenuhi kebutuhan. Kendati Pemerintah China melarang perusahaan transportasi membebankan kenaikan harga BBM kepada konsumen, tetap saja inflasi negara itu melejit ke angka tertinggi dalam 28 bulan terakhir pada November lalu.

Seiring dengan perkembangan harga yang terjadi, para pelaku pasar kini mencermati gerakan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Semua pihak ingin tahu apakah OPEC akan meningkatkan produksinya terkait kenaikan harga tersebut.

Namun, sejauh ini dua menteri kunci dari negara anggota OPEC menyebutkan bahwa harga minyak saat ini masih baik,menunjukkan indikasi kartel tersebut belum berniat menambah produksinya untuk menghentikan kenaikan harga minyak.

Para menteri OPEC negara-negara Arab akhir pekan ini sebetulnya mengadakan pertemuan di Kairo, Mesir, untuk mendiskusikan perkembangan harga dan produksi minyak.Namun,dari pertemuan ini dipastikan tidak ada keputusan formal terkait output organisasi tersebut. Sementara, pertemuan OPEC selanjutnya dijadwalkan baru akan berlangsung pada Juni 2011.

Namun, OPEC diragukan bakal segera mengambil tindakan terkait perkembangan harga yang notabene menguntungkan para produsen minyak tersebut. ”Jika harga sudah sekitar USD100 per barel dan bertahan di situ, kemudian profil ekonomi AS, Eropa, Inggris, dan Jepang mulai terlihat lemah, baru saat itulah kemungkinan ada tindakan dari OPEC.Namun,itu masih berbulanbulan lagi dan tergantung dari sejumlah hal lainnya,” tandas analis dari National Australia Bank Ben Westmore.(Koran SI/Koran SI/wdi):okezone

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: